Kamis, 22 Oktober 2009

BIBIT KAKAO SOMATIC EMBRYOGENESIS (SE)

Update : Senin, 19/10/2009
Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis Kebun


BIBIT KAKAO SOMATIC EMBRYOGENESIS (SE)
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional dan berperanan penting bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam hal penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber devisa bagi negara. Hal tersebut disebabkan sekitar 90% produksi biji kakao Indonesia dihasilkan oleh petani, dan hampir 75% produksi biji kakao diekspor yang mana hampir 80% dari nilai ekspor tersebut masuk ke petani.

Aktivitas produksi kakao di Indonesia melibatkan lebih dari 1 juta petani yang mengandalkan kakao sebagai sumber mata pencaharian.

Kakao sampai saat ini umumnya masih diperbanyak dengan benih. Hal ini yang menyebabkan terjadinya keragaan tanaman sangat heterogen dan diperkirakan 80% hasil yang dipanen dari kebun berasal dari 20% populasi tanaman. Rata-rata produktivitas kakao Indonesia sebesar 625 kg/ha/thn, masih jauh di bawah rata-rata potensi yang diharapkan sebesar 2000 kg/ ha/thn. Hal ini disebabkan sekitar 30% merupakan tanaman tua dan belum menggunakan bahan tanam unggul. Oleh karena itu perlu peremajaan tanaman kakao tua maupun tanaman yang tidak produktif menggunakan bahan tanam unggul.

Untuk mendukung rehabilitasi kakao tersebut dibutuhkan ketersediaan bahan tanam dalam jumlah dan waktu yang tepat. Di lain pihak hingga saat ini ketersediaan sumber entres klon-klon unggul baru masih sangat terbatas. Dengan demikian sangat diperlukan dukungan teknologi baru untuk mempercepat perbanyakan bahan tanam unggul tersebut. Melalui penggunaan teknik Somatic Embryogenesis (SE) diharapkan dapat mendukung penyediaan bibit klonal skala massal.

TEKNOLOGI SE
Somatic Embryogenesis (SE) adalah proses di mana sel somatik yang ditumbuhkan dalam kondisi yang terkontrol berkembang menjadi sel embriogenik yang selanjutnya setelah melewati serangkaian perubahan morfologi dan biokimia dapat menyebabkan pembentukan embrio somatik. Berbeda dengan embrio zigotik (hasil persilangan tanaman), perkembangan embrio somatik sangat mudah diamati, kondisi kultur sangat terkontrol dan dapat diperoleh embrio somatik dalam jumlah besar. Dengan demikian, SE akan memainkan peranan penting pada perbanyakan klonal kakao, karena secara genetik bersifat klonal dan secara morfologi bersifat normal.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Nestle (Nestle R&D Centre) Tours, Perancis telah mengembangkan teknik kultur in vitro kakao melalui SE dengan menggunakan media padat. Teknologi tersebut telah dapat diterapkan dalam skala besar dan tanaman kakao hasil SE telah diuji lapang di Equador. Saat ini teknologi tersebut telah ditransfer ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) melalui sistem training yang telah dilakukan pada tahun 2006 - 20O7 serta melalui program pendampingan teknologi dalam proses produksi bibit.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 0815 8441 4991)

Arsip
Mengangkat Kinerja Kelapa Dalam Via Perbenihan Modern
Kesiapan Direktorat Jenderal Perkebunan Dalam Menghadapi El-Nino
Penyebab Kapolaga Tidak Berbuah
USAHA PENINGKATAN MUTU KAKAO RAKYAT
Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Baku Industri
Arsip Lainnya...
Depan Sorotan Nasional Nusantara Berita Agriwacana Editorial Saung Tani Kolom Mimbar Penyuluhan SMS Cangkul Dinamika Kontak Tani Kontak Tani Menjawab Peluang Usaha Kebun Ikan Buah dan Sayur Pangan Saprodi Ternak Bumi dan Air Profil Lumbung Pasca Panen Potensi Harga Komoditi Agro Inovasi Budidaya Olahan Pasar Agri Penyuluh Varia Antar Penyuluh Iptek Proteksi Litbang Mancanegara Agriprosesing Tips dan Santai
© 2008 Sinar Tani Online. All rights reservedKetentuan | Redaksi | Peta Situs | Langganan | Iklan | Kontak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar