Rabu, 21 Oktober 2009

KULTUR EMBRIO JARAK DAN KARET

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyerbukan dan pembuahan dapat berhasil namun setelah persilangan buatan seringkali dijumpai permasalahan antara lain buah yang terbentuk gugur saat embrio belum matang, terbentuk buah dengan endosperm yang kecil atau terbentuk buah dengan embrio yang kecil dan lemah. Kondisi tersebut dapat menghambat program pemuliaan tanaman karena embrio muda, embrio dengan endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah secara normal dalam kondisi biasa.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka embrio tersebut dapat diselamatkan dan ditanam secara aseptis dalam media buatan sehingga dapat berkecambah dan menghasilkan tanaman utuh. Teknik untuk menanam embrio muda ini dikenal dengan sebutan penyelamatan embrio (embryo rescue).
Selain teknik penyelamatan embrio ini dikenal juga teknik kultur embrio (embryo culture), yaitu penanaman embrio dewasa pada media buatan secara aseptis. Embrio culture adalah salah satu teknik kultur jaringan yang pertama kali berhasil. Aplikasi kultur embrio ini antara lain perbanyakan tanaman, pematahan dormansi untuk mempercepat program pemuliaan serta perbanyakan tanaman yang sulit berkecambah secara alami.
1.2 Tujuan
1.2.1 Mahasiswa mampu mengetahui teknik-teknik dalam kultur embrio
1.2.2 Mahasiswa mampu mengetahui manfaat dan tujuan kultur embrio
1.2.3 Mahasiswa mampu mengetahui teknik isolasi kultur embrio dengan baik dan benar





BAB 2. METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum silangan invitro tanaman anggrek hari Selasa 2 Desember 2008, pukul 09.00-15.00. Tempat pelaksanaan green house tanaman anggrek PPPPTK pertanian VEDCA cianjur.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu : Laminar air flow cabinet, Alat diseksi, Cawan petri, Botol steril, Lampu Bunsen, Mangkuk stainless, dan bahan yang digunakan yaitu : Embrio jarak dan karet, Larutan fungisida dan bakterisida, Sterilan (alcohol 70%, bayclin 20%), Aquadest steril, Kertas saring steril, Media embrio jarak dan karet, danKertas label.
2.3 Prosedur Kerja
Sterilisasi di luar Laminar Air Flow Cabinet
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Merendam/gojok tanaman jarak dan karet dengan larutan fungisida 2 g/ml, dan bakterisida 2 g/ml selama 1jam
3. Membilas dengan air mengalir
4. Membawa kedalam laminar, sterilisasi dengan alcohol 70% selama 5 menit.
5. Membilas dengan aquades steril, kemudian merendam/gojok dengan bayklin 20% selama 10 menit.
6. Bilas dengan aquades steril, kemudian rendam/gojok dengan bayklin 10% selama 5 menit
7. Bilas dengan aquades steril, kemudian rendam/gojok dengan bayklin 5% selama 20 menit.
8. Bilas dengan akuades steril
9. Memotong bagian pangkal ujung dengan cara menjepit bagian biji jarak dan karet
10. Membelah/membuka bagian biji jarak dan karet , bagian yang diambil adalah bagian embrio
11. Menanam pada media WPM dan media MS
12. Menginkubasi pada ruang kultur
13. Mengamati selama 4 minggu
Sterilisasi di dalam Laminar Air Flow Cabinet
1. Metode Celup Bakar
a. Secara aseptis mengambil biji jarak atau karet menggunakan pinset
b. Mencelupkan biji tersebut ke dalam alkohol 96%
c. Membakarnya dalam api bunsen
d. Mengambil bakal benih pada bagian dalam biji mengunakan pisau skalpel
e. menanamkan bakal benih ke dalam media (Jarak pada media MS dan karet pada media MS dan WPM)
f. Melakukan pengamatan
2. Metode Perendaman dalam Klorok dan Alkohol
a. Menggojog biji jarak dan karet menggunakan alkohol 70%
b. Mencuci dan membilas dengan air aquadest steril
c. Menggojog dengan bayclin 30% selama 15 menit
d. Membilas dengan air aquadest steril
e. Menggojog dengan bayclin 20% selama 15 menit
f. Membilas dengan air aquadest steril
g. Membilas dengan air aquadest steril 3 kali
h. Merendam larutan desinfektan atau antiseptik (betadine) min 1 jam
i. Memotong eksplan biji jarak menjadi dua bagian
j. Mengambil bakal benih (kotiledon dan radicula) dari dalam biji dengan berhati-hati jangan sampai merusak kotiledon atau radicula.
k. Memisahkan radicula dari kotiledon dengan memotongnya secara hati-hati.
l. Menanamkan embrio pada media (Jarak pada media MS dan karet pada media MS dan WPM)
m. Memberi label pada botol yang telah ditanami eksplan
n. Merapihkan alat dan bahan pada posisi siap pakai kembali
o. Menyimpan ke dalam ruang pertumbuhan
p. Melakukan pengamatan






























BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Inisiasi Biji Jarak dan karet pada media MS
Tanaman Pengamatan MS
CB CK
Jml Jmr Bkt Bk akr Jml Jmr Bkt Bk akr
Jarak Minggu 1.
22/12/2008 5 - - 1 - 5 - - 5 -
Minggu 2.
29/12/2008 5 - - 2 1 5 1 - 1 1
Minggu 3.
05/01/2008 5 - 1 3 1 4 2 2 2
PERSENTASE 20% 60% 20%
60%
40% 40%
Karet Minggu 1.
22/12/2008 5 1 1 - - 5 - 1 - -
Minggu 2.
29/12/2008 3 - - 1 - 4 1 - - -
Minggu 3.
05/01/2008 3 - 2 1 - 3 - 2 1 -
PERSENTASE 80% 20% 0 80% 20% 0
Ket: CB: Celup Bakar; CK: Klorok; Jmr: Jamur; Bkt: Bakteri; Bk: Bengkak; akr: akar









Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Inisiasi Biji Jarak dan Karet pada media WPM
Tanaman Pengamatan WPM
CB CK
Jml Jmr Bkt Bk akr Jml Jmr Bkt Bk akr
Jarak Minggu 1.
22/12/2008 5 - - - - 5 - - - -
Minggu 2.
29/12/2008 5 - 1 - 1 5 1 - 1 1
Minggu 3.
05/01/2008 4 1 1 1 1 4 1 2 1
PERSENTASE
60%
20% 20%
40%
40% 20%
Karet Minggu 1.
22/12/2008 5 1 - - - 5 - - 1 -
Minggu 2.
29/12/2008 4 - - - - 5 1 2 1 -
Minggu 3.
05/01/2008 4 1 1 1 - 2 - - 1 1
PERSENTASE 60% 20% 0 60% 20%
20%

Ket: CB: Celup Bakar; CK: Klorok; Jmr: Jamur; Bkt: Bakteri; Bk: Bengkak; akr: akar










Gambar hasil kegiatan kultur embrio biji jarak pada media MS tersaji pada gambar 1.






Keterangan Gambar 1. : a). Jarak MS CK; b). Jarak MS CB;
Gambar hasil kegiatan kultur embrio biji jarak pada media WPM tersaji pada gambar 2.






Keterangan Gambar 2. : a). Jarak WPM CB; b). Jarak WPM CK


Gambar hasil kegiatan kultur embrio biji karet pada media MS dan WPM tersaji pada gambar 3.






Keterangan :
Gambar 3. : a) Karet MS CK; b) Karet MS CB; c) Karet WPM CK; d) Karet WPM CB



3.2 Pembahasan
Dari Tabel 1 dan 2 data hasil pengamatan pada kultur embrio biji jarak menunjukkan bahwa presentase kontaminasi lebih kecil dibandingkan dengan kultur embrio biji karet. Hasil sterilisasi pada biji jarak, tingkat kontaminasi antara perlakuan CB “Celup Bakar” dan CK “Klorok” tidak menunjukkan beda nyata. Namun dari persentase hasil yang didapat, sterilisai menggunakan perlakuan CB sangat efisien waktu, bahan sterilan dan tingkat kontaminasi. Tingkat kontaminasi perlakuan CB lebih kecil dibandingkan dengan CK, bahan yang digunakan hanya mengunakan alkohol 96% dan api bunsen dan waktu yang diperlukan tidak banyak dibandingkan dengan sterilisasi dengan CK. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kontaminasi tertinggi adalah pada biji karet baik pada perlakuan sterilisasi celup bakar maupun dengan klorok. Persentase kontaminasinya adalah antara 60% sampai 80%. Sedangkan pada biji jarak persentase kontaminasi pada perlakuan celup bakar adalah 20%-40%, pada perlakuan klorok 40%-60%
Tingkat kontaminasi yang sangat tinggi pada biji karet diakibatkan karena pada saat sterilisasi, kulit biji karet tersebut di buka di luar laminar. Dapat dimungkinkan hal tersebut yang mengakibatkan sumber kontaminan yang berasal dari udara luar menempel pada permukaan eksplan dan sumber kontaminan tersebut tidak musnah meskipun dilakukan sterilisasi dengan apapun karena kontaminan sudah menempel dan dapat dikatakan adalah sumber kontaminan endogen yaitu berasal dari dalam eksplan atau sumber tanam. Selain itu, penyebab kontaminasi disebabkan karena penggunaan bahan sterilan yang kurang optimal. Penggunaan bahan sterilsasi biji karet sama dengan sterilisasi pada biji jarak, akan tetapi biji jarak yang disterilisasi masih dalam keadaan kulit biji menyelubungi embrio biji jarak tersebut. Hal ini menyebabkan tingkat kontaminasi pada biji jarak lebih kecil dibandingkan dengan biji karet.
Pertumbuhan kultur embrio jarak pada media MS, menunjukkan respon yang lebih positif dibandingkan dengan media WPM. Pada media MS, persentase pembengkakan yang terjadi mencapai 40% dan 60%, pembentukan akarnya 20% dan 40% , sedangkan pada media WPM persentase pembengkakan mencapai 20% dan 40%, pembentukan akarnya 20% dan 20%. Respon yang positif pada media MS pada pertumbuhan kultur embrio jarak disebabkan karena nutrisi pada media MS lebih lengkap dan cocok untuk merangsang dan memacu perkembangan embrio tersebut. Menurut Suryowinoto (1996) media MS adalah media yang paling banyak dipakai, karena merupakan media yang paling efektif untuk berbagai jenis tanaman berkayu dan tanaman herbaceous selain itu unsur-unsur dalam persenyawaannya lebih lengkap.
Inisiasi embrio karet, respon yang paling baik dan dapat dikatakan respon yang positif ditunjukkan pada media WPM. Persentase pembengkakan mencapai 20% dan 20%, pembentukan akarnya 20%. Pada media MS persentase pembengkakan mencapai 20% dan 20%, sedangkan pembentukan akarnya belum terjadi. Pembentukan akar pada media WPM ini dikarenakan media WPM ini adalah media yang khusus untuk tanaman berkayu. Sehingga karet yang termasuk golongan tanaman berkayu mampu menginduksi akar pada media WPM. Media ini konsisten dengan media untuk tanaman berkayu.



BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari kegiatan praktikum kultur embrio biji jarak dan karet dapat disimpulkan bahwa :
4.1.1 kegiatan inisiasi biji jarak pada saat sterilisasi dengan metode celup bakar lebih efisien waktu dan pengerjaannya dibandingkan dengan inisiasi pada saat sterilisasi dengan klorok dan alkohol,
4.1.2 komposisi media MS lebih responsif terhadap kultur embrio jarak daripada media WPM,
4.1.3 kegiatan inisiasi biji karet diluar laminar dengan membuka kulit biji karet ternyata presentase kontaminasinya lebih tinggi,
4.1.4 komposisi media WPM lebih responsif terhadap kultur embrio karet daripada media MS
4.2 Saran
Dari kegiatan praktikum kultur embrio biji jarak dan karet yang dilakukan sejauh ini dapat dikatakan baik, akan tetapi ada beberapa hal yang perlu ditinjau kembali yaitu alternatif lain dalam inisiasi dan sterilisasi biji karet yang dilakukan untuk mengurangi tingkat kontaminasi yang terjadi menjadi lebih rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar